ngaguar budaya urang dulur

sunda surup kana tangtung
sunda siuep ngimbang kana wanda
adeg-adegna budi basana
teu rarakeun kana wanena

Minggu, 27 November 2011

perwayuga

Purwayuga
…// witan sarga
kala niking bhumitala /
bhumitala pinakagni dumilah mwang usna //
prayuta warsa tumuli kukus peteng rat bhumandala canaih canaih dumanarawata sirna /
bhumi mahatis yadyatsun mangkana /
tatan hana janggama /
ateher bhumandala nikang dadi prawata lawan sagara //
prayuta warsa tumuli dadi ta sthawarahalit ateher dadi ta janggama prakara satwa /
ateher satwekang haneng sagara /
makadi mina mwang sarwa mina //
ri huwus ika prayuta warsa tumuli sthawarekang nanawidha mwang ring samangkana dadi ta janggama satwa raksasanung nanawidha prakaranya /
ateher sarwana janggama  satwa binturun mwang satwa lenya waneh /
kadi waraha /
turangga mwang lenya manih /
ateher prayuta warsa tumuluy dadi ta janggama prakara manusadhama lawan tatan purnna //
hana pwa purwwajanma purusa satwa /
ateher lawasira mewu iwu warsa manih /
akreti saparwa satwa satwa saparwa manusa //
lawas ri huwus ika dadi ta purusakara /
ateher manusadhama mwang wekasan dadi ta purusa purnna //
à.
(Wangsakerta, 1677: 20-22)
(kisah ini diambil dari Naskah Pangeran Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara Parwa I Sarga 1. Dikutip dari buku Sejarah Banten, yang disusun oleh Drs. Yoseph Iskandar, dkk.)

Awal manusa
mangjuta juta tahun saterusna, datang makluk hirup ngawujud jalma tingkatan handap nu can sampurna. Manehna nyaeta anu di sebut manusia purba/buhun, manusia sato, saterusna jadi manusia setengah hewan satengah manusia.
Prathama Purwayuga
Manusia sato(satwa purusa)
Kira kira 1.000.000 tahun nepi 600.000 tahun baheula di Nusantara, nu utami di Pulau Jawa, hirup manusia nu masih handap pekertinya jung nyipatan sepertos sato. Aya oge nu nyebutna manusia sato (satwa purusa) di zaman buhun, karena maranehna berlaku sapertos sato s. Di antarana aya nu nyarupaan monyet gede jeung jangkung sosok tubuhna, maranehna tataranjang. Aya oge nu sapertos raksasa, tubuhna buluan jeng maranehna kejam watakna.

Ada jenis lain lagi di daerah hutan dan pegunungan yang lain. Mereka mirip kera. Ada yang tinggal di atas pohon, di lereng gunung dan tepi sungai. Mereka berkelahi dan membunuh tanpa menggunakan senjata, hanya menggunakan tangan. Mereka tidak berpakaian dan tidak memiliki budi pekerti seperti manusia sekarang. Kesenangannya ialah berayun ayun pada cabang pohon. Manusia hewan ini terdapat di hutan pulau Jawa, hutan Sumatera, hutan Makasar, dan hutan Kalimantan (Bakulapura).
Manusia raksasa (bhatupurusa)
Di daerah lain di Pulau Jawa, antara 750.000 sampai 300.000 tahun yang silam, hidup manusia hewan yang berjalan tegak seperti manusia. Kulitnya berwarna gelap, tingkah lakunya baik dan lebih cerdas dibandingkan dengan manusia hewan yang berjalan seperti hewan. Tiap hari mereka membuat senjata dari bahan tulang dan batu. Mereka selalu diserang oleh sekelompok manusia hewan yang menyerupai kera. Pertempuran di antara kedua kelompok itu selalu seru. Akan tetapi, manusia hewan yang berjalan tegak seperti manusia itu lebih mahir dalam teknik berkelahi, sehingga akhirnya mahluk manusia hewan yang berjalan seperti hewan itu habis terbunuh tanpa sisa dan lenyap dari muka burni. Manusia hewan yang berjalan seperti manusia itu, disebut juga manusia raksasa (bhutapurusa). Mereka tinggal di dalam goa di lereng gunung.

Manusia jenis ini akhirnya punah karena sejak 600.000 tahun yang silam mereka banyak dibunuh oleh manusia pendatang dari benua utara. Mereka berasal dari Yawana lalu menyebar ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Pulau Jawa. Kira kira 250.000 tahun yang silam, manusia hewan yang berjalan tegak seperti manusia itu habis binasa. Zaman ini oleh para mahakawi dinamai masa purba yang pertama (prathama purwayuga).
Dwitiya Purwayuga
Yaksapurusa
Sementara itu, antara 500.000 sampai 300.000 tahun yang silam, di Sumatera, Jawa Kulwan (Barat) dan Jawa Tengah, hidup manusia yaksa (yaksapurusa) karena rupa mereka seperti yaksa atau danawa. Mereka bertubuh tegap dan tinggi serta senang meminum darah manusia sesamanya, musuh, ataupun binatang. Perangainya kejam dan bertabiat seperti binatang buas. Mahluk jenis ini pun akhirnya punah karena banyak terbunuh dalam pertempuran dengan kaum pendatang baru dari benua utara.
Yaksa mantare
Seterusnya, antara 300.000 sampai 50.000 tahun yang silam, di Jawa Barat dan Jawa Tengah pernah hidup manusia berwujud setengah yaksa (manusia yaksa mantare). Kelompok manusia ini belum diketahui asal-usulnya sebab hampir sama rupanya dengan manusia yaksa yang punah. Akan tetapi bertubuh lebih kecil, berwarna kuit agak gelap, tidak banyak berbulu, serta susila dan cerdas jika dibandingkan dengan manusia yaksa yang telah punah. Kelompok inipun akhirnya punah karena didesak, diburu, dan akhirnya dibinasakan oleh kaum pendatang dari benua utara. Periode ini oleh para mahakawi (pujangga besar) disebut masa purba yang kedua (dwitiya purwwayuga).
Tritiya Purwayuga
Wamana Purusa
Selanjutnya, pernah pula hidup manusia kerdil (wamanapurusa) atau danawa kecil. Mereka itu berwujud yaksa kecil sehingga oleh para mahakawi dinamakan manusia kerdil. Mereka hidup antara 50.000 sampai 25.000 tahun yang silam. Mereka tidak cerdas. Senjata dan perabotannya terbuat dari batu, tetapi buatannya tidak bagus, mahluk jenis inipun akhimya punah. Zaman ini oleh para mahakawi disebuf masa purba pertengahan (madya ning purwwayuga) atau masa purba ketiga (tritiya purwwayuga).
Wamana purusagheng
Ke dalam zaman tersebut, termasuk pula masa hidup jenis manusia kerdil yang bertubuh besar (wamana purusagheng) atau manusia Jawa purba. Mereka menetap di Jawa Tengah dan Jawa Timur antara 40.000 sampai 20.000 tahun yang silam. jumlahnya tidak banyak. Mereka ini pun akhirnya punah karena bencana alam, saling bunuh di antara sesamanya, dan akhirnya seperti juga nasib penghuni Pulau Jawa yang lain, dihabisi oleh kaum pendatang dari benua utara.
Caturtha Purwayuga
Pendatang dari utara : yawana, campa, syangka, timur gaudi (benggala)

Perpindahan (panigit) manusia pendatang dari benua utara: Yawana, Campa, Syangka, dan dari daerah-daerah sebelah tirnur Gaudi (Benggala) menyebar ke Ujung Mendini (Semenanjung Malaysia), Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Kutalingga, Gowa, Makasar, dan pulau pulau lain di sebelah belahan timur Nusantara, termasuk Nusa Bali. Mereka tiba di Nusantara kira kira 20.000 tahun sebelum tarikh Saka.

Manusia yaksa kerdil (wamana purusa), sebagal pribumi berperangai buas dan kejam seperti hewan. Oleh sebab itu mereka diperangi dan dikalahkan oleh para pendatang baru.

Sementara itu, manusia purba yang hidup antara 25.000 sampal 10.000 tahun yang silam tidak punah sebab mereka berbaur menjadi satu. Banyak wanita manusia purba itu berjodoh dengan Aria dari kaum pendatang baru. Kerukunan, kerjasama dan perjodohan di antara kedua belah pihak, telah menyelamatkan kelompok manusia purba dari bahaya kepunahan.
Adapun, kaum pendatang baru dari benua utara tersebut tergolong manusia cerdas. Mereka membuat perkakas dan senjata dari batu, kayu, tulang, bambu, serta bahan bahan lain dengan hasil yang hampir bagus (meh wagus). Menurut para mahakawi masa kedatangan orang orang dari benua utara tersebut, dinamakan sebagai masa purba keempat (caturtha purwwayuga).
Pancama Purwayuga
Dari 10.000 tahun sebelum tarikh Saka, sampal tahun pertama Saka, terjadi perpindahan secara bergelombang, kelompok pendatang dari benua utara, yaitu:

1.    antara 10.000 sampai 5.000 tahun sebelum tarikh Saka;
2.    antara 5.000 sampai 3.000 tahun sebelwn tarikh Saka;
3.    antara 3.000 sampai 1.500 tahun sebelum tarikh Saka;
4,    antara 1.500 sampai 1.000 tahun sebelum tarikh Saka;
5.    antara 1000 sampal 600 tahun sebelwn tarikh Saka;
6.    antara 600 sampai 300 tahun sebelum tarikh Saka;
7.    antara 300 sampai 200 tahun sebelum tarikh Saka;
8.    antara 200 sampal 100 tahun sebelwn tarikh Saka;
9.    antara 100 sampai awal tarikh Saka.

Pada masa itu disebut sebagai masa purba kelima.


tinu artikel ieu simkuring teu pati percanten tapi simkuring ngalebetkeun cuma bahan referensi wungkul...tapi walahualam ....allah nu maha uninga


1 komentar:

  1. tentang manusia purba saetik oge simkuring pelaku nu ngasupkeun ieu teori tinu link sejen teu percanten...tapi walahu alam

    BalasHapus

mangga nu bade ngomongmah